SI TUKANG PUKUL

Leave a comment

“Plok!” tiba-tiba telapak tangan Mike mendarat keras di lengan kanan Aditya, sepupunya. Mike kesal lantaran mobil balap mainan favoritnya diambil Aditya tanpa permisi.

Memukul merupakan reaksi alami saat seseorang merasa kesal, marah atau frustasi. Maka tidak aneh jika di usia ini anak-anak sering saling pukul. Ini dimaklumi karena mereka:

  • Belum tahu cara tepat mengekspresikan rasa marah atau kesal.
  • Mulai menyadari fungsi dan kekuatan tangannya. Dengan memukul, ia tahu reaksi lawannya.
  • Belum bisa bicara. Bicara adalah ekspresi verbal. Anak yang belum bisa bicara menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya.
  • Kelebihan energi dan tidak tahu cara menyalurkannya.
  • Tidak tahu akibat pukulannya terhadap korban.

Meski anak punya alasan untuk memukul, bukan berarti Anda mengizinkannya main pukul untuk mengekspresikan perasaan atau menyalurkan kelebihan energinya. Berikut cara mengajak si kecil untuk stop memukul.

  • Hindari teriakan “Jangan Pukul!”

Teriakan Anda bukan cara tepat untuk melarang. Anda perlu bicara tegas, diikuti penjelasan, tapi bukan berteriak. Misalnya, “Mike, jangan pukul Aditya ya. Karena Aditya bisa sakit.” Dari cara ini, anak dapat mendengar pesan Anda dan mencerna penjelasan Anda tanpa perlu harus mendengar teriakan Anda.

  • Ganti pukulan dengan kalimat

Ganti perilaku memukul dengan cara lain. Misalnya, ajarkan ia kata-kata seperti, “Jangan ambil!”, “Ini punya aku!”, “Tidak boleh!”, atau “Pergi!”. Sehingga, saat teman si kecil merebut mainan yang sedang dimainkan, ia dapat mengatakan kata-kata itu, sebagai bentuk pembelaan dirinya, bukannya memukul.

  • Terapkan dan konsisten pada aturan

Saat si kecil kembali memukul orang lain, Anda harus tetap tegas melarangnya. Konsistensi Anda akan melatih anak menjalani aturan. Bila sekali saja Anda membiarkan anak memukul temannya atau malah menyuruhnya memukul temannya karena ia dipukul, Anda gagal melatihnya. Si kecil bisa bingung dengan peraturan yang Anda buat, apakah dia boleh memukul atau tidak.

  • Berlakukan untuk semua orang

Minta orang di sekitar anak untuk mengikuti aturan yang Anda terapkan, seperti baby sitter, paman, bibi, kakek, nenek atau bahkan pasangan Anda sendiri. Ia belajar dari contoh. Bila orang lain di sekitarnya masih ada yang suka memukul, ia pun akan melakukannya.

  • Akui perasaannya

Jadilah orang tua yang berempati pada perasaan si kecil. Jangan hanya memarahi perilakunya, tapi usahakan mengakui perasaan marah atau kesalnya. Anda bisa katakan “Adik boleh kok marah karena mainannya direbut. Tapi tidak perlu memukul teman. Nanti dia bisa sakit. Minta saja mainannya kembali.” Tujuannya agar ia tidak menekan rasa marah atau kesalnya sendiri.

  • Salurkan hobi pukulnya

Cara ini berlaku untuk anak yang hobi memukul karena kelebihan energi. Coba salurkan dengan kegiatan seperti bermain drum, bermain tenis dengan raket mainan, atau memukul karung pasir khusus anak-anak. Bila si kecil sudah terpuaskan dengan kegiatan ini, kebiasaan memukul orang lain akan berkurang.

(sumber: Majalah Ayah Bunda)

Coba Sentuh (1-2 tahun)

Leave a comment

Si 1-2 tahun membutuhkan banyak perbendaharaan tekstur benda, untuk membantu mengasah indra perabanya. Karena itu kenalkan sebanyak mungkin benda dengan tekstur yang berbeda-beda.

Di Taman

Daun dan Bunga: Sentuhkan jemari si kecil pada aneka jenis daun segar, daun kering, serta beragam bunga

Batang: Temukan batang pohon bertekstur kasar dan halus. Minta anak memeluk dan mengusap-usap batang untuk merasakan keras, kasar maupun lembutnya tekstur pohon.

Tanah rumput, batuan dan pasir: Lepaskan alas kaki si kecil (jangan takut kotor), ajak dia mengunjak rumputm tanah, bebatuan dan pasir. Cobakan juga tanah basah, agar anak merasakan tanah melekat di kakinya. Beritahu anak nama benda yang dia injak dan teksturnya.

Sensasi Udara: Bisa dirasakan anak saat ia main ayunan, hembusan angin di kulitnya akan terasa nyaman.

Perhatikan!! Kondisi tanah, bebatuan dan pasir. Pastikan tidak ada benda tajam yang bias menyakiti telapk kaki.

Bermain Air

Tekstur dan sifat air: Eksplorasi air bisa dilakukan si kecil saat Anda memandikannya. Tangan dan kakinya memukul air, mengambil gayung/shower untuk membasahi tubuhnya sendiri. Ditambah bubble bath, dia bisa merasakan air dan busa.

Suhu air: Sediakan juga air dingin agar ia bisa membedakan suhu air

Perhatikan!! Suhu air. Gunakan air hangat bila ingin membiarkan si kecil bermain air agak lama, Bila si kecil mulai membiru, langsung angkat. Perhatikan pula polahnya, agar tidak ada air yang terminum atau masuk ke hidung dan telinga.

Mainan

Tekstur boneka: plastik, kain, bulu dan rambut boneka

Tekstur mobil-mobilan: yang terbuat dari logam. Ia juga mengenal keras, berat dan agak dingin. Roda mobil-mobilan yang terbuat dari plastik atau karet serta ada serabut-serabut dan tonjolan-tonjolan halus, bisa dirasakan si kecil saat merabanya.

Perhatikan!! Bahan paku mainan si kecil, patikan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya. Bila sewaktu-waktu si kecil memasukkannya ke dalam mulut, tidak menimbulkan bahaya.

Membaca buku

Buku bertekstur: Di dalam buku itu terdapat gambar dengan bahan-bahan bertekstur seperti kain berbulu, kain halus, kain kasar, plastik dan karet. Ajak si kecil meraba dan merasakan tekstur-tekstur gambar di buku. Biarkan beberapa saat ia menikmati teksturnya. Katakan berulang-ulang jenis tekstur yang sedang ia pegang.

Perhatikan!! Pastikan bagian buku tidak ada yang rusak